Mbok Ginem Ingkar Janji

0
500
Mbok Ginem

Sebuah meja kecil yang lapuk dimakan usia. Sebuah panci alumunium dengan kerak hitam di bagian bawah yang berisi bubur beras. Beberapa mangkuk yg berisi kacang, suwiran ayam, daun bawang, dan irisan cakwe sebagai bahan pelengkap bubur. Satu botol kecap. Beberapa  buah mangkuk dan sendok. Dan seorang nenek berkerudung dengan tangan bergemetar menyajikan bubur ayam di atas trotoar.

Namanya mbok Ginem, 70 tahun. Seorang penjual bubur ayam yang setiap pagi menjajakan dagangannya di sebuah jalan di dekat rumahnya. Sebulan lalu, ia hanyalah ibu rumah tangga biasa. Membersihkan rumah, memasak makanan untuk suami, dan mengantarkan makanan tersebut ke tempat kerja sang suami. Mbok Ginem menghabiskan masa hidupnya bersama sang suami. Keluarga di kampung sudah tidak ada. Mbok Ginem pun juga tidak dikaruniai seorang anak.

Mbok Ginem berasal dari kampung di Wonogiri. Karena keterbatasan ekonomi, Mbok Ginem tak pernah mengenal yang namanya bangku sekolah. Dia merantau bersama sang suami 50 tahun yang lalu untuk mencari nafkah hidup di ibukota. Berbagai macam pekerjaan serabutan telah Mbok Ginem dan suaminya jalani. Di usia renta, Mbok Ginem mulai sakit-sakitan. Suaminya pun melarang Mbok Ginem bekerja.

Ya, sebulan lalu Mbok Ginem tak menyangka hidupnya berubah begitu cepat. Sang suami yang bekerja sebagai tukang bangunan meninggal karena jatuh dari lantai 20 sebuah bangunan baru, tempat dia bekerja. Kini dia hidup seorang diri, di rumah reyotnya yang bocor tiap kali datang hujan.

Tanpa adanya nafkah dari suami telah mengubah hidup Mbok Ginem, dari seorang ibu rumah tangga biasa menjadi penjual bubur pagi hari di trotoar. Dengan uang duka cita dari tempat kerja almarhum suami yang tak seberapa besar, Mbok Giyem menjalankan bisnis barunya: berdagang bubur ayam.

Usia tua dan tanpa ijazah sama sekali membuat Mbok Ginem tidak mempunyai pilihan lain selain berjualan bubur. Ya, di usia 70 tahun, Mbok Ginem setiap hari harus bangun subuh-subuh memasak bubur dan menyiapkan bahan pelengkapnya, mengangkat sendiri meja dari rumahnya ke trotoar, kemudian berjualan bubur. Menjelang siang, Mbok Ginem merapikan lagi barang dagangannya, membawanya ke rumah, mencuci peralatan masaknya, dan belanja bahan untuk membuat bubur di pasar. Semua ia lakukan seorang diri.

Baca juga  Habis Minyak, Sepah Dibuang

Kesepian. Lelah. Adalah yang dirasakan Mbok Ginem setiap hari. Keuntungan yang ia dapat dari berjualan bubur tidaklah banyak. Jangankan untuk memperbaiki atap rumahnya yang bocor, untuk belanja keperluan sehari-hari saja masih kurang. Namun, dia tetap berusaha ikhlas menjalani hidup. Hanya itu yang dia punya sekarang.

Bulan ini adalah bulan Ramadan. Mbok Ginem mulai banting setir berjualan kolak pisang menjelang waktu berbuka puasa. Selain tidak banyak orang yang membeli sarapan bubur saat bulan puasa, Mbok Ginem juga berusaha menghormati bulan penuh berkah ini.

Almarhum suami Mbok Ginem sangat menyukai kolak pisang. Dulu, hampir setiap hari Mbok Ginem membuat kolak pisang untuk almarhum suaminya. Keahlian membuat kolak pisang yang nikmat pun membawa Mbok Ginem menjadi penjual kolak pisang yang disukai pembeli. Dagangannya ludes setiap hari diserbu para pembeli tersebut.

“Duh Gusti, aku berterima kasih pada-Mu mendatangkan bulan Ramadan, bulan penuh berkah.” begitulah rasa syukur yang ia panjatkan setiap hari dalam doanya.

Para penjual kolak pisang yang setiap tahun berjualan di tempat Mbok Ginem berjualan mulai gusar, merasa tersaingi oleh kedatangan Mbok Ginem karena dagangan mereka menjadi tidak laku. Padahal Mbok Ginem berjualan di tempat yang sama di mana ia berjualan bubur seperti biasanya. Mereka, para penjual kolak pisang tersebut hanya berdagang setahun sekali saat bulan Ramadan.

Ini adalah hari ketiga Mbok Ginem berjualan kolak pisang. Seperti biasa, Mbok Ginem membawa meja mungilnya sendiri, menata perlengkapan dagangnya, kemudian mulai berjualan kolak pisang. Tak berapa lama setelah Mbok Ginem selesai menata barang dagangannya, para pedagang kolak pisang lain di lokasi itu mengusir Mbok Ginem karena telah mencuri rejeki mereka. Segala caci maki mereka lontarkan supaya Mbok Ginem tidak berjualan kolak pisang lagi. Salah seorang pedagang bahkan sampai menggebrak meja Mbok Ginem sampai tubuh Mbok Ginem gemetaran karena ketakutan.

Mbok Ginem menangis. Dia membereskan barang dagangannya yang belum sempat laku hari itu, kemudian membawanya pulang. Dia menatap nanar satu panci kolak pisangnya. Dia tak tahu lagi apa yg harus dia lakukan untuk menyambung hidup esok hari.

Baca juga  Habis Minyak, Sepah Dibuang

Penampilan Mbok Ginem yang telah berusia tua, muka yang dipenuhi keriput, tatapan yang sayu sembab karena air mata yang tumpah setiap hari, serta kondisi tubuh yang ringkih, sebenarnya menjadi modal untuk mengemis. Dengan kondisi seperti itu, pasti banyak yg memberi sedekah ke Mbok Ginem jika dia mengemis. Apalagi saat ini adalah bulan rang-orang berlomba mengumpulkan pahala. Pasti banyak rupiah yang dia dapat hanya dengan duduk di trotoar dan mengemis kepada setiap orang yang lewat.

TIDAK! Dia selalu ingat pesan almarhum suaminya. Semiskin-miskin hidup mereka, pantang bagi mereka untuk mengemis. Selama nafas masih berhembus, carilah rejeki dengan bekerja. Itulah janji yang mereka ungkapkan ketika mereka memutuskan untuk menikah.

Mbok Ginem berjalan menyusuri jalan. Ia mengetuk pintu demi pintu di setiap rumah yang ia singgahi. Terkadang tak ada penghuni yang keluar, terkadang pembantu rumah tangga yang keluar dan mengusirnya, terkadang hanya diteriaki “maaf, tidak menerima pengemis” dari dalam rumah tersebut tanpa ada penghuni yang menemuinya. Dari pagi sampai matahari tenggelam, Mbok Ginem tak henti-hentinya mendatangi rumah-rumah orang dan mengetuk satu-persatu pintu rumah tersebut dengan harapan ada pekerjaan yang dapat ia lakukan. Apapun itu. Sekecil apapun upah yang akan ia terima.

Nihil. Seminggu ia melakukan hal tersebut, hasilnya tetap nihil. Tak seorangpun memberinya pekerjaan. Tak seorangpun mempercayakan pekerjaan pada orang yang lanjut usia karena pasti akan sangat lambat dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Uang Mbok Ginem semakin menipis. Mbok Ginem pun akhirnya memutuskan kembali ke kegiatan sehari-harinya, berjualan bubur di pagi hari. Dia sadar betul dagangannya akan kurang laku karena semua orang sedang berpuasa. Dia hanya berharap dagangannya dibeli oleh orang-orang yang sedang tidak puasa, seperti orang yang sedang sakit, ibu hamil, dan kondisi lain yang menyebabkan orang diperbolehkan untuk tidak berpuasa.

Walaupun berdagang bubur menguras energi, Mbok Ginem sendiri tetap berpuasa. Tak sedikitpun ia tergoda melihat bubur dagangannya. Dia sudah terbiasa berpuasa sedari kecil karena kondisi ekonomi orang tuanya yang kurang mampu.

Baca juga  Habis Minyak, Sepah Dibuang

Satu orang datang mendekati Mbok Ginem. Seorang ibu-ibu tengah baya dengan penampilan yang sangat sopan dan alim. Betapa girangnya Mbok Ginem mendapat satu pembeli hari itu. Dia berpikir, yang penting balik modal saja sudah syukur.

“Nek, ini sedang bulan puasa. Nenek nggak menghormati orang yang sedang berpuasa? Mulai besok jangan berjualan saat yg lain sedang puasa ya.”

Kalimat yg keluar dari orang yg dikira Mbok Ginem sebagai pembeli tersebut sangat sopan. Penuh senyum. Mbok Ginem hanya membalasnya dengan tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Mbok Ginem merasa sangat bersalah.

Kemudian datang lagi seseorang laki-laki berdandan ala orang kantoran mendatangi dagangan Mbok Ginem. Namun, Mbok Ginem tidak melihatnya. Dia tak sadar ada orang yang mendatangi dagangannya. Dia masih merasa bersalah berdagang makanan di saat orang lain menjalankan puasa puasa. Dia hanya menatap dagangannya dengan tatapan kosong.

“Mbah..” sapa laki-laki tersebut.

Mbok Ginem kaget dan terbangun dari lamunannya.

“Mbah, ini saya kasih uang 100 ribu. Mulai besok jangan jualan makanan pagi-pagi seperti ini ya. Nanti menganggu orang berpuasa” Dia menaruh uangnya dan pergi.

“Mas… ini uangnya…” Mbok Ginem mengejar laki-laki tersebut dan berusaha mengembalikan uangnya. Namun langkah kaki Mbok Ginem tak secepat langkah laki-laki yang usianya jauh di bawah Mbok Ginem tersebut. Dia telanjur hilang dari pandangan Mbok Ginem.

Mbok Ginem pulang sambil menangis. Hanya satu jam berjualan, dia terpaksa mengangkut barang dagangannya yang tak laku tersebut untuk dibawa kembali pulang. Tak seorangpun sempat membeli buburnya.

Keesokan harinya, Mbok Ginem kembali berjalan menyusuri trotoar dengan langkah gontai, dengan tubuh lemas karena belum makan. Ia sudah tak punya uang lagi untuk membeli makanan. Kali ini, dia tidak lagi mengetuk rumah penduduk di sepanjang jalan yang ia lalui. Mbok Ginem berjalan dan terus berjalan sampai ke ujung jalan. Kemudian, dia duduk di bawah lampu merah. Dengan tangan menengadah ke atas. Melanggar janjinya ke almarhum suami, untuk tidak mengemis.

LEAVE A REPLY